Berita-berita online melupakan sejarah

By | December 20, 2016

onlinenewsBerita-berita online melupakan sejarah negeri ini. Bulan ini, kantor berita online marak di penuhi oleh berita politik, SARA dan opini yang menutupi fakta. Hampir semua media menampilkan isu mengenai kondisi dunia politik Indonesia yang terpusat pada berita “penistaan”, “kafir” dan “aksi massal”. Bagaimana dengan berita lain yang berhubungan dengan ‘kemanusiaan’, “lingkungan” atau “pendidikan”?. Semua itu seakan di lupakan dan tertelan begitu dalam sehingga masyarakat “lupa” dengan hal-hal mendasar yang jauh lebih penting daripada politik dan kekuasaan. Masyarakat kembali lupa bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan dari kejadian yang telah berlangsung selama manusia ada di muka bumi ini. Semua kembali kepada kekuasaan dan wilayah.

Jika masyarakat ingat apa yang terjadi pada tahun 1635 – 1678 ketika Johan Maetsuycker menjadi Gubernur Jenderal VOC dan memerintah Nusantara dari Batavia (kini Jakarta). Pada saat itu, bangsa kita masih belum bersatu seperti saat ini namun melalui alasan itu pula, bangsa kita bisa memiliki alasan kuat untuk bersatu dan memerdekakan dirinya dari tirani penjajah. Namun, yang terjadi saat ini, bangsa Indonesia kembali di jajah. Bukan hanya penjajahan oleh pihak luar negeri namun penjajahan yang dilakukan oleh sesama bangsa Indonesia. Bukan tidak mungkin terjadi perang saudara walau sebisa mungkin hal tersebut di cegah sedari dini. Pemberlakuan UU ITE yang diperbaharui pada tanggal 28 November kemarin menjadi salah satu alat untuk mencegah hal tersebut terjadi. Kini, netizen, tidak bisa sembarang menyebarkan informasi yang mengandung unsur provokasi dan unsur kebencian dalam isi thread berita online mereka.

Berita online dari daerah timur Indonesia yang berhubungan dengan Pengibaran bendera asing di tanah air itu telah melanggar Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1958 tentang Lambang Negara terlah terjadi di Ternate. Pengkibaran bendera Tiongkok yang sejajar dengan bendera Merah Putih. Hal ini pun mengundang komentar pedas dari Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zein. Dengan diamnya TNI atas insiden ini, menyebabkan komentar seperti yang dilontarkan Kivlan semakin banyak tersebar di media. Berita ‘kemanusiaan’ yang lebih perlu mendapatkan perhatian adalah jaringan prostitusi online melalui media pesan Whatsapp. Jaringan ini terungkap di kota Yogyakarta seperti yang dilansir oleh situs berita Merdeka.com. Dalam pengakuannya, tersangka yang merupakan mucikari dengan inisial AS baru memulai ‘bisnis’ ini selama satu tahun. Dan dengan kemampuannya membujuk para perempuan yang ingin mendapatkan ‘uang cepat’, ia mampu mengajak para perempuan itu untuk menjadi PSK online.

Bukankah hal tersebut merupakan berita yang sungguh membuat miris para pembaca karena dengan kondisi perekonomian negara yang kian terpuruk dan tingkat pendidikan yang masih terus berkembang namun belum berhasil menghasilkan masyarakat dengan pola pikir yang maju. Hingga kapankah negara ini mau belajar dan memperhatikan hal-hal mendasar seperti pendidikan dan kesehatan demi masa depan yang lebih baik untuk layaknya hidup anak dan cucu kita kelak? Tentunya bukan kehidupan seperti saat ini yang diinginkan oleh para orang tua. Jika bangsa kita masih lupa dengan sejarahnya, maka kondisi seperti saat ini akan terus bertahan hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Karena dengan lupa atau malas membaca, tentu bangsa Indonesia akan selalu hidup dalam masa ‘kebodohan’ dan sejarah akan terulang kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *