Mengenal Kriteria Berita Online yang Mengandung Hoax

By | January 5, 2017

Teknologi internet memungkinkan setiap orang bisa berbagi informasi atau berita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Dengan internet, semua orang bisa menjadi citizen journalist jika memang memiliki kecapakan dalam menyampaikan informasi yang akurat. Internet menawarkan berbagai kemudahan dalam memproduksi dan mendapatkan berita atau informasi. Namun, kemudahan dan kecepatan yang disebabkan oleh teknologi internet juga membawa dampak negatif dalam memberikan berita terbaru kepada masyarakat. Terlalu mudahnya setiap orang memberikan berita dan informasi membuat masyarakat akan sulit menentukan mana berita yang benar-benar fakta dan mana informasi atau berita yang hanya gosip atau berita palsu belaka. Bahkan, kini setiap orang bisa membuat media online tersendiri dan memposting berita online yang mereka produksi sendiri. Akibatnya, berita yang tidak kredibel dan berita yang banyak mengandung unsur hoax (berita palsu) pun bermunculan.

Pembaca harus lebih jeli dalam membaca berita online, sebab kini banyak berita hoax atau gosip yang tersebar di internet. Membaca berita palsu atau berita hoax tidak akan memberikan manfaat bagi pembaca dan bisa menghasut dan bahkan membodohi pembaca dengan kabar bohong. Agar terhindar dari berita hoax tersebut, pembaca mesti mengenali beberapa kriteria berita hoax yang akan diulas di bawah ini.

Pertama, berita yang dibuat untuk kepentingan tertentu dan disebarluaskan dengan tujuan tertentu. Banyak pihak yang ingin memberikan berita tertentu untuk kepentingan pihak mereka, misalnya membuat berita miring tentang seorang tokoh agar nama tokoh tersebut jelek di mata masyarakat. Tidak jarang juga, banyak pihak yang mengagung-agungkan seorang tokoh dan membuat berita yang berlebihan tentang tokoh tersebut untuk mendongkrak popularitasnya untuk tujuan tertentu, misalnya untuk tujuan kampanye. Membaca berita yang seperti itu tentu akan membuat pembaca berasumsi dan mengambil kesimpulan mengenai konten yang diberitakan.

Kedua, berita yang dibuat oleh media yang tidak profesional. Media yang tidak profesional adalah media yang tidak memiliki badan hukum, sehingga keberadaannya ilegal. Selain itu, profesionalitas sebuah media juga ditentukan oleh kompetensi wartawannya. Media yang tidak profesional berarti wartawannya tidak kompeten, misalnya tidak melakukan verifikasi terhadap narasumber atau tidak mengecek kebenaran sebuah berita, atau bahkan memproduksi berita bohong.

Ketiga, media yang menayangkan berita tidak proper alias menayangkan berita palsu, abal-abal, dan tidak memenuhi kode etik jusnalistik. Kode etik jusnalistik yang harus dipenuhi misalnya adalah keharusan mendapat klarifikasi dari dua belah pihak (cover both sides) dan tidak berat sebelah dalam pemberitaannya.

Media yang menayangkan berita online yang tidak proper biasanya sumber beritanya tidak memiliki kredibilitas, tidak memiliki keahlian dalam bidang yang diberitakan sehingga apa yang dikatakannya patut diragukan, dan bahkan hanya menggunakan asumsi sebagai dasar pendapatnya. Media-media yang sering memposting berita palsu harus dihindari agar pembaca tidak mudah terhasut akan berita yang dikabarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *