Cara Mengetahui Informasi Online yang Tidak Akurat

By | January 10, 2017

Perkembangan teknologi internet mengakibatkan arus informasi semakin deras sehingga masyarakat akan semakin mudah mendapatkan informasi terbaru. Setiap orang bisa menulis dan memposting informasi terkini yang mereka dapatkan ke akun-akun pribadi mereka di internet sehingga bisa dibaca dan diakses oleh masyarakat luas dalam waktu yang singkat. Dengan semakin mudahnya masayarakat dalam menyebarkan berbagai informasi di internet, tidak jarang internet dimanfaatkan untuk menyebarkan berita-berita palsu atau berita yang tidak akurat untuk kepentingan tertentu. Agar masyarakat tidak terjebak oleh berita palsu atau berita tidak akurat yang menyebar di internet, berikut ini adalah kiat-kiat mengetahui informasi online yang tidak akurat, yang bisa ditandai oleh berbagai gejalanya.

Pertama, berita yang tidak akurat biasanya diproduksi atau disebarkan oleh akun media online yang tidak memenuhi ketentuan mengenai badan usaha pers, atau dengan kata lain media yang menyebarkan informasi online tersebut adalah media ilegal yang belum terdaftar di bawah badan hukum. Hal ini tentu melanggar undang-undang pers, sebab setiap media massa wajib terdaftar di bawah badan hukum dan mendapatkan izin dari pihak yang berwanang. Jika ketentuan ini sudah dilanggar, maka otomatis media tersebut juga akan mudah melanggar kode etik jurnalistik.

Kedua, alamat redaksi media online itu tidak tercantum di situs web tersebut, atau kalaupun ada dan dicantumkan alamatnya tidak jelas atau fiktif. Bukan hanya alamatnya yang fiktif, bahkan susunan redaksi dan penanggung jawab redaksinya pun seringkali tidak dicantumkan atau menggunakan nama-nama samaran. Hal ini tentu mencederai aturan dasar jurnalisme yang mengharuskan setiap media untuk membuka identitasnya.

Ketiga, berita yang ditayangkan oleh situs berita tersebut hanya didasarkan pada asumsi dan opini, tidak berdasarkan pada fakta atau kejadian yang sesungguhnya. Informasi dan berita yang penuh opini biasanya tidak mengutip berita dari narasumber yang jelas atau narasumber yang kredibel. Interpretasi wartawan sangat dominan sehingga pembaca sulit membedakan antara fakta di lapangan dengan opini si wartawan.

Keempat, media tersebut tidak menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik, apa yang dikabarkan tidak sesuai fakta yang terjadi. Bukan hanya tidak menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik, media yang tidak kredibel bahkan sering melanggar prinsip jurnalistik dalam pemberitaannya sehingga validitas berita yang dihasilkannya perlu dipertanyakan.

Kelima, media tersebut tidak melakukan verifikasi sebelum mempublikasikan berita ke masyarakat luas, baik dengan menghubungi saksi-saksi atau narasumber yang pendapatnya dikutip dalam pemberitaan tersebut. Verifikasi sangat penting dilakukan agar pemberitaan yang ditampilkan benar-benar sesuai dengan yang dimaksudkan oleh si sumber berita.

Keenam, media tersebut cenderung menghakimi satu pihak dan membela pihak lain. Prinsip cover both sides yaitu memfasilitasi pendapat kedua belah pihak cenderung diabaikan, sehingga informasi online yang disebarkan cenderung berat sebelah. Membaca informasi yang tidak akurat dan berat sebelah harus dihindari agar masyarakat tidak terhasut oleh berita palsu tersebut, yang tentu akan sangat merugikan masyarakat sebagai pihak pembaca berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *